| Views |
207  |
|
I. Refocusing (7 April 2008) Dihadiri oleh 21 orang dari tim pelaksana WB Ibu Padang yang sudah menyelenggarakan 2 kali pembinaan, bersama dengan beberapa orang yang sudah pernah terlibat sebagai fasilitator. Beberapa hal yang merupakan nilai, esensi dan pilar dari pelayanan WB disegarkan kembali lewat belajar bersama dan diskusi dalam kelompok kecil. Refocusing ini dibagi dalam 2 sesi, bertujuan untuk mengingatkan kembali apa yang selama ini sudah pernah diterima dan mungkin sudah dilakukan saat bekerja dalam tim, juga untuk mempertajam kembali visi, misi dan arti wanita bijak di tengah-tengah tim. Disesi ke-2 seluruh peserta refocusing sepakat mengadakan pembinaan WB single pertama kalinya untuk Padang dan Bukit Tinggi. Tim pelaksana terdiri dari para alumni WB Ibu sehingga dalam persiapannya WB single di kota Padang ini akan dilahirkan oleh para ibu yang sudah lebih dulu melahirkan kegerakan lewat pembinaan WB di Padang.
II. KKR Wanita, Padang 7 April 2008
KKR ini ditujukan sebagai event pembuka untuk diselenggarakannya WB Single yang pertama kalinya di kota Padang, dihadiri 150 orang yang sebagian besar adalah para wanita single. Firman Tuhan yang dibagikan adalah dari 1 Raja-raja 17 : 7 – 24, mengambil kisah tentang Elia dan janda di Sarfat. Saat dilakukan altar call peserta yang hadir mengambil komitmen untuk mengalami kembali kasih Tuhan dan memberikan yang terbaik dari hidup mereka untuk Tuhan.
III. WB Modul-2, Padang 8 April 2008
WB Modul-2 dilakukan dalam 2 sesi; sesi 1 adalah memberikan arahan dan gambaran mengapa dan bagaimana WB Modul-2 dilakukan. Setelah itu dibagikan topik 1 dari WB Modul-2 yaitu : “Kejarlah kasih”. Peserta belajar dan mengalami bersama bagaimana mempraktekkan WB Modul-2 ini. Di Sesi ke-2 seluruh peserta melakukan praktek dan pembelajaran bersama. Dihadiri oleh 25 orang peserta dari tim yang selama ini sudah terlibat dalam pelaksanaan pembinaan WB di kota Padang, maupun mereka yang terlibat aktif sebagai fasilitator. Pembelajaran WB Modul-2 ini dilayani oleh ibu Anna Ho, Sdri.Tantri dan Sdri.Swanni. WB Modul-2 ini dipraktekkan melalui : kelompok kecil, power of questions, keterbukaan untuk mengalami kesembuhan, personal conviction (pertobatan pribadi) dan personal commitment (komitmen pribadi). Berikut ini adalah 2 kesaksian yang mewakili para peserta WB Modul-2 di Padang :
Dalam sesi 1 di modul 2, saya menemukan sesuatu yang baru di dalam diri saya. Saat itu kami diminta untuk memilih salah satu dari sepuluh definisi kasih yang sulit kami lakukan, kemudian kami membuat tiga pertanyaan untuk diri sendiri. Bagi saya yang paling sulit dilakukan yaitu saya suka menyimpan kesalahan orang lain, sekalipun saya sudah minta ampun pada Tuhan dan mengampuni orang yang menyakiti saya itu. Namun setiap kali saya sedang bersama-sama dengan orang itu, saya mudah sekali mengingat perilaku dan kata-katanya yang pernah melukai hati saya. Setelah saya mengajukan tiga buah pertanyaan tersebut, saya sangat tertolong dan menemukan jawaban atas masalah saya. Saya berkomitmen bahwa saya akan menerapkan cara ini dalam setiap masalah saya. Sebab kunci dari pertobatan itu adalah berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu, kemudian kepada Tuhan, lalu kepada sesama. (Ibu Lina, Peserta Modul 2 Padang)
Pada MODUL 2 sesi “Kejarlah Kasih” banyak hal yang membuat saya terkesima mendengar setiap kalimat yang disampaikan pembicara, bagaimana perlunya mengejar kasih. Roh Kudus banyak menegur saya dengan kalimat-kalimat kebenaran yang disampaikan. Sampai pada saat kami dibagi berkelompok-kelompok, kami diminta untuk mengingat dosa apa yang sering dilakukan, kemudian diskusikan di dalam kelompok. Diantara kelompok kami yang banyak menjadi pokok permasalahan adalah sulit melupakan kesalahan orang lain dan pemarah. Saya coba kembali koreksi ke dalam diri, ternyata ini juga yang menjadi penyakit saya: sulit mengampuni pemimpin yang telah membuat hati saya hancur. Saat itu kami diminta untuk berdoa masing-masing, dan didengar oleh teman yang lain. Saat kami berdoa, saya merasakan ada sentuhan Roh Kudus, dengan jujur saya berkata kepada Tuhan, “Ampuni saya yang telah membenci, kecewa, dan sakit hati, serta sulit untuk mengampuni pemimpin saya. Tuhan saya mau melepaskan pengampunan itu, saya tahu itu sulit untuk dilakukan karena sudah begitu lama sakit hati, kekecewaan itu berdiam di diri saya. Untuk itu Tuhan bantu saya agar Roh KudusMU memampukan untuk mengampuni.” Keesokan harinya tanpa diduga pemimpin memanggil saya masuk ke ruangannya, Tuhan memulihkan hati yang sekian lama memendam kecewa. Akhirnya kami saling meminta maaf dan mendoakan. Sejak hari itu komunikasi di antara saya sebagai bawahan dengan pemimpin sudah pulih.
(Ira, Peserta Modul 2 Padang)
Users' Comments (0)  |
|
|