| Views |
506  |
|
 Otak merupakan ‘bos’ yang mengatur seluruh hidup seseorang termasuk kesadaran diri dan nurani. Ini sebabnya meskipun sudah koma, tapi belum tentu telinga tidak bisa meneruskan informasi ke otak. Maka dari itu pelayanan kepada pasien koma bisa dilakukan dengan membisikkan pada telinganya.
Akan tetapi rahasia yang akan diungkap di sini adalah bagaimana otak terbentuk dan bekerja. Tentu saja secara fisik jaringan sel otak terbentuk seperti jaringan sel bagian tubuh yang lain pada saat seseorang ada dalam kandungan bunda. Sel-sel otak itu disebut NEURON yang jumlahnya mencapai 100 milyar dari trilyunan sel yang merakit tubuh manusia.
Satu neuron berjejaring dan berinteraksi dengan neuron lainnya melalui axon dan dendrit. Mereka saling bertukar informasi dan sinyal melalui proses electro-chemical, yaitu reaksi kimia yang disertai impuls listrik. Semakin cepat dan kompleks proses interaksi dan koneksi neuronnya, semakin pintar orang itu.
Itu sebabnya Mazmur 139: 13 berkata bahwa Tuhan menenun kita selagi kita bakal anak, sebab semua jaringan neuron itu seperti tenunan yang dirajut oleh tangan yang “Maha Ahli”. Pola ‘tenunan’ ini terbentuk sejak dari kandungan dan selesai sekitar 80 % pada saat seseorang berusia 7 tahun. Seperti apa pola yang terbentuk merupakan ramuan antara genetika dan interaksi antar neuron. Pola itu menentukan watak dasar manusia serta tabiat-tabiatnya. Itulah sebabnya Amsal 22: 6 menganjurkan kita harus mendidik seseorang selagi dia muda agar masa tuanya tidak menyimpang dari pola tenunan yang telah terbentuk.
Dengan kata lain: kalau kita mau menghasilkan manusia dengan kecenderungan memiliki kebiasaan baik, tenunlah itu di masa ‘golden years’ mereka. Pada usia itu neuron banyak membangun jaring-jaring koneksi dengan sesama neuron dan berinteraksi dengan susunan kimia tertentu. Dan seperti apa network yang terbentuk tergantung dari stimulus dan informasi yang diterima. Maka prinsip kebenaran Firman yang ditanam sejak awal sangat mempengaruhi cara neuron bekerja.
Riset para peneliti otak menemukan bahwa otak manusia hanya dipakai secara optimal sebanyak 10 % dari kapasitas dan kemampuan yang seharusnya. Itu sebabnya Daniel yang sedari kecil sudah dididik prinsip kebenaran Firman ini ketika remaja otaknya jadi maksimal, alhasil beliau 10 x lebih cerdas dari semua orang cerdas seantero Babel. Padahal kemampuan otak manusia mengolah data secara rata-rata saja lebih dari 20 x tingkat kecerdasan komputer paling canggih yang pernah dibuat manusia.
Anak-anak kita juga bisa secemerlang Daniel sekiranya orang tua dan lingkungannya menyediakan waktu lebih banyak untuk investasi prinsip dan pengajaran Firman pada saat pembentukan network neuron di otaknya. Sayangnya orang lebih banyak mencurahkan energy dan resources untuk manusia yang neuron di otaknya sudah tidak aktif berjejaring bahkan banyak yang mulai disfungsi.
Maka sekarang kita mengerti mengapa Tuhan membuat anak kecil secara naluri ingin selalu minta perhatian orang tua dan ingin diajak kemana saja kita pergi. Sebab sepertinya itulah waktu buat kita mencurahkan semua energy dan resource untuk ‘menenun’ otaknya dengan semua kebenaran Tuhan. Bukankah mereka mengeja : “KASIH” dengan 5 huruf: W-A-K-T-U.
Users' Comments (0)  |
|
|