Ibu Biak Oktober 2007
Views 196    

Biak adalah kota ke-3 di Papua yang menyelenggarakan pembinaan Wanita Bijak setelah Jayapura dan Manokwari. Didukung setiap alumni dari 2 kota sebelumnya, bersama-sama bergerak dan menjadi berkat bagi lebih banyak lagi wanita khususnya di Biak. Biak Supiori adalah wilayah pemekaran dari Biak Numfor.

Image 

Penyelenggaraan pembinaan ini disambut dengan antusias oleh peserta yang datang bukan hanya dari Biak tetapi juga dari Sorong, Bintuni dan Manokwari. Istri bupati Biak Supiori, Ibu Ance Warikar, turut mengambil bagian sebagai penanggung jawab pembinaan ini.
 

Diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh para pejabat pemerintah daerah (Bupati, pejabat Departemen Agama dan Kasub Bagian Pemberdayaan perempuan setempat) serta beberapa perwakilan pelayanan wanita yang ada di Biak, suasana camp terasa sangat kental dengan warna kebudayaan setempat. Pembukaan yang ditandai dengan pemukulan tifa semakin menambah warna etnik camp kali ini, sangat mengesankan!

Image 

Camp berlangsung dari tanggal 18 – 20 Oktober 2007 di Hotel Arumbai Biak. Antusiasme seluruh peserta tidak surut dari awal hingga akhir camp, walaupun sebagian dari peserta datang dari kota lain yang menempuh perjalanan cukup jauh. Peserta dari Sorong tiba sebelum camp setelah lewat perjalanan laut yang cukup panjang dan saat kembali mereka juga harus menunggu jadwal pelayaran berikutnya, namun tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan dan Tuhan melawat kehausan mereka dengan pemulihan.

Bagaimana camp pembinaan Wanita Bijak dapat terselenggara di kota Biak tidak lepas dari hati seorang “ibu” yang begitu besar untuk melihat pemulihan terjadi pada wanita-wanita Papua, beliau adalah Ibu Ance Warikar.

Berikut ini adalah petikan dari kesaksian singkat beliau :

“Saya ikut camp WB di Sentul, Jakarta – Juni 2005. Waktu itu hanya sekedar ikut dan mau lihat, tapi apa yang disampaikan seperti membuka semua yang selama ini tersembunyi. Saya tidak berhenti menangis dari awal hingga akhir camp, menangis karena bertobat dari setiap sikap hati saya yang salah selama ini sebagai seorang wanita, istri dan ibu. Saya adalah orang yang sangat pendiam, sehingga saya cenderung “menyimpan” semuanya di hati, hanya saya yang tahu. Tapi Tuhan tahu apa yang saya simpan selama ini dan Dia menyatakan isi hatiNya kepada saya secara pribadi, saya begitu terharu atas kebaikan Tuhan. Pulang dari camp saya mengunjungi anak-anak saya di Bandung dan mereka melihat perubahan dalam diri saya. Sejak itu ada suatu kerinduan dan beban yang besar di hati saya bagaimana agar berkat ini juga dialami oleh wanita-wanita lain di Papua. Saya mulai mengambil bagian dengan mengajak 23 orang ibu dari Biak dan Supiori untuk ikut camp WB di Jayapura, setelah itu menyusul 10 orang ikut sebagai peserta dan fasilitator pada camp WB di Manokwari. Kerinduan saya yang terbesar adalah bagaimana wanita-wanita Papua (terutama para birokrat dan hamba Tuhan/istri Hamba Tuhan) mengalami pemulihan sebagai seorang wanita. Suami saya mendukung sepenuhnya terlibat dalam pelayanan ini, prinsip kami adalah : “Jabatan ini Tuhan yang punya, jadi kami mau berikan kembali apapun yang kami punya untuk Tuhan”.(aa)
Quote this article in website Favoured Print Send to friend Related articles Save this to del.icio.us

Users' Comments (0) RSS feed comment

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.2 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved