Anda telah mengikuti pembinaan Wanita Bijak (ibu/single/girls' talk)? Bagikan berkat yang telah Anda terima di situs Wanita Bijak ini. Kirimkan kesaksian Anda ke
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya
(Tulis nama, e-mail/alamat/kota, kelompok usia -ibu/single/girls' talk).
Sekretariat WB: Komp. Gading Bukit Indah blok I no.9, Kelapa Gading. Telp. 021 4585 2632
Baru-baru ini saya membuka-buka lagi sebuah buku yang sudah sekitar 10 tahun saya miliki. Buku ini saya susun sendiri, berisi cuplikan-cuplikan kehidupan saya sejak kelahiran sampai saat perkuliahan, lengkap dengan potongan-potongan foto penuh kenangan. Saat menyusunnya, saya ingin agar orang-orang di sekitar saya menuliskan pandangan ataupun kesan dan masukan-masukan mereka terhadap diri saya. Maka saya pun meminta saudara, para sahabat dan teman-teman lain untuk menulis di buku ini. Ketika saya buka kembali, ada satu hal yang menarik yang sepertinya dulu tidak pernah saya bayangkan yaitu sebuah perubahan.
Saat-saat awal buku ini “diedarkan”, mayoritas orang menulis bahwa saya adalah seseorang yang kaku, sulit bergaul, galak, dan mudah “BT”. Saya akui semua memang benar adanya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka tidak lagi menuliskan hal-hal yang sama, ada kesan yang berbeda yang mereka lihat. Mereka mulai menulis bahwa saya adalah seorang yang perhatian, penolong, serta loyal. Sebuah perubahan yang tadinya tidak pernah saya bayangkan, tetapi sungguh-sungguh terjadi.
Kejadian 2 : 23 sejak awal wanita dihadirkan di dunia sebagai penolong (baca WW edisi “Wanita Sebagai Penolong”),
ia diperlengkapi dengan kepekaan yang juga menjadi kekuatannya, kepekaan yang benar datang dari kebenaran Firman Tuhan (Efesus 1 : 17) dan terbangun saat digunakan untuk menolong orang lain dan saat anda memiliki keberhargaan diri yang benar. Setiap kita dapat dipakai untuk menjadi alat Tuhan bagi kerajaanNya, lalu apakah yang harus dilakukan?
Jangan Buang Waktu Banyak wanita single memilih menetap di zona kenyamanannya, enggan untuk keluar dan menemukan komunitas baru yang dapat membangun motivasi dirinya. Akhirnya mereka mengalami kejenuhan, kesepian dan kehilangan banyak pengalaman yang memuaskan serta menyenangkan. Setiap wanita single punya “posisi strategis” untuk melayani Tuhan. Saat melayani mereka akan menerima sukacita yang tak tergambarkan. Ambillah langkah iman dan ambil bagian sebagai seorang penolong, mulailah dari gereja lokal anda atau terlibat menjadi sukarelawan dibeberapa kegiatan sosial. Libatkan diri anda dan lihatlah apa yang selama ini hilang.
Waktu kecil, saya suka sekali makan telur asin buatan nenek. Karena telur asin buatan nenek sangat enak sekali, merah telurnya berwarna merah matang dan ada sedikit minyak yang keluar jika telur itu dipotong. Wah...kebayang sedapnya apalagi jika dimakan dengan nasi putih panas-panas.
Namun sayang sekali, saya tidak pernah melihat cara nenek mengasinkan telur-telur bebek tersebut, karena biasanya saya tinggal makan telur asin tersebut jika saya datang ke rumah nenek. Sehingga saya beranggapan kalau telur asin itu memang sudah asin sejak ditelurkan dari induk bebek. Sampai suatu hari di sekolah, guru saya mengadakan pelajaran prakarya cara membuat telur asin. Masing-masing anak harus membawa satu butir telur bebek mentah, batu bata dan garam kasar. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya, kenapa telur bebek mesti diasinkan lagi bukannya memang sudah asin? Akhirnya waktu pulang sekolah saya bertanya pada mama tentang telur asin tersebut, mama menjelaskan tentang asal telur asin tersebut bahwa asalnya tidak asin, karena direndam dengan garam maka telur bebek tersebut menjadi asin. Akhirnya saya mengerti apalagi setelah dipraktekan di sekolah, saya jadi tambah mengerti bahwa sebenarnya telur bebek yang asin tersebut akibat dari garam yang memberi pengaruh sampai telur tersebut menjadi asin. Rupanya garam tersebut mempunyai efek yang luar biasa.
Hi gals around Indonesia!! Greetings from Surabaya
Jika ada seseorang bertanya kepada kita begini: ‘ Apakah engkau mau menjadi teladan bagiku?’ , kita tentu akan berpikir ‘apakah aku sudah mampu menjadi teladan?’ rasanya koq belum, rasanya banyak yang harus diperbaiki sebelum mampu untuk menjadi teladan.
Kalo itu yang ada di pikiran kita, saya ingin memberitakan kabar baik yaitu bahwa saya dan saudari semua sama (ternyata! hehehe). Kalau seandainya boleh memilih, mungkin dengan segera kita akan langsung memilih pilihan yang lebih mudah yaitu tidak perlu menjadi teladan, hidup biasa-biasa saja, tidak perlu susah-susah berusaha… pokoknya aku kan sudah bersyukur? Menjadi teladan bukan pilihan, sekali lagi … menjadi teladan bukanlah suatu pilihan tetapi keharusan (hiks hiks, koq susah ya).
Melanjutkan pertanyaan pertama di atas, jika orang yang menanyakan hal itu adalah Yesus, bobot pertanyaannya akan menjadi lebih berat bukan? Karena keteladanan kita akan dipadankan dengan kebenaran Alkitab (even worse kan?). Mungkin kita akan bereaksi begini: ‘ wadow, boro-boro jadi teladan buat orang lain wong ngatur diri sendiri aja susah banget’, sudah begitu keteladanan kita kemudian dipadankan juga dengan kebenaran Alkitab (walah, tambah susah ya…)
Banyak wanita yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki kesempatan yang besar dalam hidupnya untuk melaksanakan Amanat Agung dalam hidup sehari-hari, misalnya: ketika berkomunikasi dengan rekan sekantor, dengan pembantu di rumah, saat bersama keluarga.