Anda telah mengikuti pembinaan Wanita Bijak (ibu/single/girls' talk)? Bagikan berkat yang telah Anda terima di situs Wanita Bijak ini. Kirimkan kesaksian Anda ke
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya
(Tulis nama, e-mail/alamat/kota, kelompok usia -ibu/single/girls' talk).
Sekretariat WB: Komp. Gading Bukit Indah blok I no.9, Kelapa Gading. Telp. 021 4585 2632
Ada sebuah ajaran Yunani kuno yang berasal dari filsuf Plato yang telah sangat mempengaruhi gereja sejak abad pertengahan hingga masa kini. Ajaran ini mengatakan bahwa segala sesuatu yang bersifat rohani itu lebih kudus dari yang ‘non-rohani’ (sekuler). Jadi membaca Alkitab, berdoa, atau pelayanan di gereja itu lebih kudus dari berdagang di toko, mengurusi kotoran bayi, atau menemani suami di tempat tidur.
Ini adalah suatu ajaran yang sangat tidak Alkitabiah. Ketika seorang wanita berbuah tetap, maka ia justru bisa mempraktekkan Firman dalam kehidupan sehari-hari dan bukan hanya di pelayanan atau ketika di gereja saja. Untuk lebih memahami tentang hal ini, WW berdiskusi di sela-sela acara Rakernas WB 2008 di Salatiga dengan Ruth Chambers, seorang istri, ibu dan nenek yang selama puluhan tahun telah melayani orang Indonesia di berbagai pelosok negeri ini.
Suatu hari, anak perempuan saya yang berumur hampir 6 tahun bertanya kepada saya,”Mami, apakah dulu sebelum mami menjadi ibu, mami ikut sekolah ibu?.” Saya kaget sekaligus geli mendengar pertanyaan polos itu. “Tidak ada sekolah menjadi ibu”, jawab saya. “Oh, tidak ada ya?”, anak saya menegaskan kembali. Saya mengangguk, kemudian dia pergi bermain dan meninggalkan saya di kamar, sendirian dan merenungkan pertanyaannya.
Seolah saya disadarkan, memang tidak ada sekolah khusus menjadi ibu, seperti sekolah menjadi dokter, pengacara, akuntan dan berbagai profesi lainnya. Memang ada berbagai seminar dan buku-buku tentang menjadi seorang orang tua (ibu) yang baik, bagaimana mendidik anak dan berbagai topik berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang ibu; namun tetap saja itu bukanlah sebuah “sekolah” dan tidak pernah cukup untuk mempersiapkankan dan melengkapi seorang wanita untuk menjadi ibu. Menjadi ibu adalah sebuah kehormatan, sebuah pelayanan yang tidak tampak di muka umum dan memiliki tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Menuntut pengorbanan dan kerelaan hati. Menyita 24 jam hidup kita, dalam 7 hari seminggu, selama 52 minggu setahun.
Otak merupakan ‘bos’ yang mengatur seluruh hidup seseorang termasuk kesadaran diri dan nurani. Ini sebabnya meskipun sudah koma, tapi belum tentu telinga tidak bisa meneruskan informasi ke otak. Maka dari itu pelayanan kepada pasien koma bisa dilakukan dengan membisikkan pada telinganya.
Kelihatannya itu adalah hal yang mustahil, tapi sesungguhnya ini adalah hal yang sangat mungkin.Seberapa banyak anda sebagai ibu memperkatakan firman kepada anak anda, maka sebegitu banyaklah anak anda menerima firman itu. Beberapa tips dibawah ini dapat anda lakukan untuk bukan saja memperkenalkan anak anda pada firman tetapi mengajar anak untuk dapat membaca/menghafal firman.
Dalam keadaan yang “baik-baik”, kita akan mudah untuk tidak bersungut-sungut, tapi ujian yang sesungguhnya justru datang saat bukan dalam keadaan “baik-baik”. Nah, saat itulah justru kesempatan kita untuk belajar jadi wanita yang bijak. Sekalipun mungkin respon awal kita secara spontan langsung bersungut-sungut namun adakah firman yang “timbul” di hati kita dan itu menyadarkan kita untuk kembali kepada kebenaran Firman Tuhan? Bagaimanapun kebenaran Allah itu adalah hal yang tertinggi, itulah yang akan menyelidiki hati kita yang terdalam. Firman Tuhan katakana bahwa kesalehan kita seperti kain kotor (Yesaya 64 : 6). Jika demikian maka kita tidak punya alasan untuk tidak bersungut-sungut.