|
REPORTASE WB IBU UJUNG MENTENG |
|
|
| Views |
305  |
|
Hari ini Tanggal 23 Mei 2009, Pukul 8 pagi kami berangkat menuju kawasan Ujung Menteng, suasana jalan dipagi itu sudah disibuki para pekerja yang hendak ke kantor, namun tidak nampak anak-anak yang berangkat ke sekolah karena hari ini adalah hari pertama anak-anak libur sekolah. Dalam waktu 45 menit kami sudah tiba di tempat tujuan. Saat itu panitia sudah bersiap-siap menyambut para peserta yang berjumlah 102 orang, mereka adalah para orang tua asuh dari sekolah Cahaya Bangsa yang didirikan oleh Yayasan Pelita Persada Mereka datang dari berbagai denominasi gereja; GBI, GPDI, Katolik dan HKBP. Tepat pukul 10 sesi pertama dimulai, dibawakan oleh ibu Evita, ”Maria adalah wanita yang bersedia hidupnya mengalami perubahan, apakah ibu-ibu bersedia mengalami perubahan seperti yang Maria alami?” demikian beliau menuturkan. Sesi selanjutnya dibawakan oleh ibu Anna Ho, beliau menyampaikan bahwa sebelum menjadi wanita yang bijak, kita adalah wanita yang bodoh. Namun saat sadar dari kebodohan kita, apakah kita mengandalkan Tuhan atau tidak? Inilah yang menentukan apakah kita bisa menjadi bijak. Pembinaan WB ini pun di hadiri oleh 5 ibu gembala yang menjadi peserta, berikut salah satu kesaksian dari mereka :
”Sebagai seorang istri gembala saya dituntut menjadi orang yang diteladani oleh jemaat saya, ini sungguh berat bagi saya karena terkadang saya pun masih memiliki kekurangan. Melalui pembinaan Wanita Bijak, saya jadi mengerti bagaimana menjadi penolong dan menjadi teladan yang sesungguhnya bagi keluarga dan jemaat." (Ibu Lydia)
"Sebenarnya saya merasa tidak berharga karena saya sering merasa tidak diperhatikan oleh suami dan anak-anak. Saya merasa kalau diri saya ini seperti pembantu. Setelah mendengar kebenaran yang disampaikan, saya sekarang sadar bahwa diri saya berharga, sekarang saya rindu untuk menjadi penolong bagi suami dan melayani dia juga anak-anak.” (ibu Juniar)
Berikut penuturan para peserta; “Saya adalah seorang pekerja gereja yang sudah senior, saya meletakkan keberhargaan saya pada pelayanan. Saya merasa firman Tuhan yang dibagikan bukanlah untuk saya, namun Tuhan menegur, sekarang saya sadar bahwa keberhargaan saya yang benar yaitu terletak pada apa kata Tuhan tentang diri saya.” (Helen, peserta WB Single Lampung). Aichu berkata bahwa pembinaan wanita bijak ini lain dari pada yang lain. “Saya sudah banyak mengikuti seminar dan retreat, tapi saya mengalami sentuhan secara personal dalam sisi kewanitaan saya. Surat kasih dari fasilitator benar-benar menjawab kebutuhan dan pergumulan saya, saat teduh juga diberikan secara personal dan sesuai dengan kebutuhan saya. Lydia mengaku bahwa dia adalah seorang wanita yang tidak bisa menerima dirinya lahir sebagai wanita. “Dari kecil saya tidak pernah diperlakukan sebagai wanita dan itu membuat saya bertumbuh menjadi wanita tomboy, tapi hari ini saya tau bahwa kalau saya dilahirkan sebagai wanita ada maksud Tuhan untuk hidup saya dan saya mau bertumbuh dalam sisi kewanitaan saya.” Oleh : Tantri
Users' Comments (0)  |
|
|