| Views |
214  |
|
Apa yang ada dipikiran kita saat mendengar kata “Pemulung”? Sampah, kotor, orang miskin, bau... Namun pernahkah terpikirkan oleh kita untuk menjamah mereka yang dianggap sampah, kotor, orang miskin dan bau? Yakobus 2:5b berkata, “Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Inilah yang menjadi tugas kita sebagai umat tebusanNya, untuk membawa mereka kepada kebenaran bahwa mereka berharga, dan dapat menjadi teladan bagi orang lain. Wanita Bijak (WB) segmen pemulung yang baru pertama kali diadakan, namun keantuasiasan peserta yang kebanyakan bekerja sebagai pemulung ini sangat luar biasa. “Aku percaya Tuhanku ajaib, Kau turun tangan memulihkanku.” Penggalan lagu ini mewakili hati para wanita pemulung di Kampung Sawah Cakung Jakarta. Mengangkat tangan kepada Tuhan, dengan harapan hidup mereka dapat diubahkan. Pembinaan Wanita Bijak segmen pemulung ini dimulai pada tanggal 29 Juli 2009 mengambil tempat di gedung gereja GBI Kampung Sawah. Acara dimulai dengan Pra Camp yang dibawakan oleh ibu Evita, beliau menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya pembinaan ini. Respon para peserta sangat antusias, karena mereka tidak pernah berpikir sebelumnya dapat mengikuti acara seperti ini. Setiap hari kegiatan mereka, memulung dan mengurus anak, tidak ada waktu khusus untuk diri mereka pribadi. Itu sebabnya selama acara berlangsung tidak sedikit dari mereka yang membawa anak-anak, satu orang ibu membawa 2 sampai 3 orang anak, karena tidak ada orang yang dapat menggantikan untuk mengasuh anak. Suami mereka kebanyakan berprofesi sebagai pemulung dan ada juga yang berprofesi sebagai supir angkot dan supir truk. Itu sebabnya para fasilitator yang terlibat, mereka tidak hanya melayani para peserta, dengan segenap hati mereka bersedia membantu menjaga dan menggendong anak maupun bayi yang dibawa serta dalam pembinaan, terutama pada saat ibu mereka maju untuk didoakan bahkan saat menulis surat kasih untuk suami.
Pembinaan WB kali ini, dibuat sesederhana mungkin, agar para peserta dapat memperoleh esensi dari pembinaan WB. Materi yang dibagikan oleh para pembicara dibuat sangat sederhana dan menjawab kebutuhan mereka sehari-hari. Total peserta yang hadir adalah 150 orang, belum termasuk fasilitator, panitia dan anak-anak mereka yang memenuhi gedung gereja. Suasana seperti ini rasanya serupa dengan pelayanan Yesus selama dibumi, dimanapun Ia berada selalu dipenuhi oleh orang-orang yang haus akan pengajaranNya, karena Yesus selalu memberi harapan dan jawaban bagi mereka yang ”miskin”. ”Telah lama saya menantikan acara seperti ini untuk ibu-ibu di daerah saya, baru pertama kali terjadi ditempat ini mereka mau bertahan dari pagi hingga sore untuk mengikuti acara,” ungkap ibu Baker selaku gembala gereja. Yang paling menarik di sesi mutiara, Ibu Evita menanyakan kepada peserta apa yang membuat mereka puas menjadi seorang wanita? Beberapa ibu menjawab puas menjadi wanita karena memiliki anak, bahkan ada yang menjawab puas menjadi wanita karena bisa memiliki banyak anak. Saya jadi teringat akan pepatah lama yang mengatakan, ”banyak anak banyak rejeki,” bagi golongan masyarkat seperti mereka anak memang menjadi asset keluarga untuk membantu keluarga menambah penghasilan. Saat hari semakin siang, ruangan semakin panas, pengap dan anak-anak tidak mau lagi diajak ke ruang bermain. Mereka tidak mau lepas dari para ibu, akibatnya tidak sedikit ibu-ibu yang menggendong sambil menyusui bayi mereka dari pagi hingga sore selama sesi berlangsung. Antusias dan kehausan mereka akan kebenaran firman yang dibagikan membuat saya terharu. Hari kedua saya kembali lagi ke pembinaan WB Pemulung ini, awalnya saya ragu para ibu-ibu ini dapat konsentrasi penuh terhadap materi yang dibagikan sehingga mereka hanya menerima sedikit saja dari materi yang dibagikan. Namun sungguh mengaggumkan saat acara dimulai, ada 10 orang ibu yang maju ke depan panggung untuk menyaksikan perubahan apa yang mereka alami setelah mengikuti pembinaan WB. Kebanyakan menyaksikan bahwa mereka belajar untuk berubah dari emosi yang tidak benar terhadap anak, yaitu mendidik anak dengan pukulan / fisik, mereka belajar untuk lebih mengasihi anak-anak dengan meminta maaf dan belajar untuk lebih sabar. Berikut beberapa pernyataan kesaksian dari para peserta :
”Saya sering sekali cekcok dengan suami, ini karena hati saya yang keras. Kalau di gereja saya tidak pernah mau didoakan, karena merasa baik-baik saja, namun pada hari pertama pembinaan WB saya bilang ke Tuhan kalau saya mau berubah. Itu sebabnya waktu ada tantangan maju ke depan untuk membereskan hati dihadapan Tuhan, saya berkata dalam hati Tuhan saya mau dibereskan dan saya mau didoakan.” (Ibu Dormauli)
”Saya selalu saja memiliki masalah dengan suami, anak dan mertua. Sehingga saya merasa tidak berharga, karena tidak pernah berbuat apa-apa untuk keluaga. Saya mudah sekali emosi, sehingga gampang memukul anak. Kemarin waktu saya maju untuk didoakan, saya merasakan kasih Tuhan yang memberi kekuatan kepada saya. Sekarang setiap malam saya peluk anak-anak dan tidak memukul mereka lagi.” (Ibu Erika)
”Sebelum ikut WB, saya suka tidak percaya sama suami, setiap kali berangkat kerja saya telponin diai. Setelah ikut WB, saya sadar kalau saya adalah penolong buat suami. Sekarang kalau suami pulang kerja, saya siapkan pakaian dan handuk untuk dia mandi, tidak marah-marah lagi. Dengan perubahan sikap saya ini, suami pun berubah, dia selalu betah di rumah dan makin sayang sama saya.” (Ibu Maria Lili)
”Semenjak kecil ibu saya sudah meninggal dan bapak tidak memperhatikan saya dan saudara-saudara. Akhirnya beranjak remaja saya memutuskan untuk menikah, namun pernikahan saya tidak bertahan lama. Setelah 3 tahun menikah, saya memutuskan untuk bercerai, hal ini membuat bapak marah dan menganggap kalau diri saya ini sudah mati. Akibatnya saya jadi benci dan tidak pernah menghubunginya lagi.. Namun setelah mengikuti WB, saya mau mengampuni bapak, sepulang WB hari pertama saya langsung menghubungi bapak untuk meminta maaf. Ternyata bapak telah memaafkan saya dan menanyakan mengapa saya tidak pernah menghubunginya. Saya lakukan ini karena saya tahu saya berharga dimata Tuhan.” (Ibu Mega)
Users' Comments (0)  |
|
|