| Views |
898  |
|
Suatu hari, anak perempuan saya yang berumur hampir 6 tahun bertanya kepada saya,”Mami, apakah dulu sebelum mami menjadi ibu, mami ikut sekolah ibu?.” Saya kaget sekaligus geli mendengar pertanyaan polos itu. “Tidak ada sekolah menjadi ibu”, jawab saya. “Oh, tidak ada ya?”, anak saya menegaskan kembali. Saya mengangguk, kemudian dia pergi bermain dan meninggalkan saya di kamar, sendirian dan merenungkan pertanyaannya. Seolah saya disadarkan, memang tidak ada sekolah khusus menjadi ibu, seperti sekolah menjadi dokter, pengacara, akuntan dan berbagai profesi lainnya. Memang ada berbagai seminar dan buku-buku tentang menjadi seorang orang tua (ibu) yang baik, bagaimana mendidik anak dan berbagai topik berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang ibu; namun tetap saja itu bukanlah sebuah “sekolah” dan tidak pernah cukup untuk mempersiapkankan dan melengkapi seorang wanita untuk menjadi ibu. Menjadi ibu adalah sebuah kehormatan, sebuah pelayanan yang tidak tampak di muka umum dan memiliki tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Menuntut pengorbanan dan kerelaan hati. Menyita 24 jam hidup kita, dalam 7 hari seminggu, selama 52 minggu setahun.
Suatu kali, karena merasa begitu capek dan jengkel harus mengurusi anak-anak dan rumah tangga, saya berkata kepada suami,”Besok mami cuti dulu ah, capek nih!” Suami tersenyum menanggapi kejengkelan saya,”Wah jangan begitu dong, mam” Meskipun berkata demikian, dalam hati saya mengerti, tidaklah mungkin saya cuti menjadi ibu. Bisa saja saya tidak ada di rumah untuk beberapa hari, boleh saja saya tidak melakukan tugas rutin seorang ibu selama beberapa saat, namun saya tetaplah seorang ibu bagi anak-anak saya !
Menjadi ibu berarti selalu siap mengulurkan tangan menjawab kebutuhan anak, tidak peduli rasa letih menguasai tubuh. Memberikan pelukan hangat di saat anak merasakan kesepian. Mengucapkan kata-kata penghiburan kala anak merasa sedih. Mendorong penuh semangat sewaktu anak mengalami kegagalan.
Kelihatannya ini terlalu berat untuk dijalani. Sesuatu yang mustahil dilakukan. Seringkali kita merasa gagal menjadi ibu yang bijak, yang baik, yang penuh kasih dan segala macam “predikat” bagi kita sebagai seorang ibu yang diharapkan. Mungkin kita bertanya-tanya, apakah saya sudah cukup baik sebagai seorang ibu? Apakah yang saya lakukan sudah benar?Apakah saya sudah menjadi teladan bagi anak saya? Dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan lain yang timbul di hati kita.
Hari itu, ketika saya merenungkan arti seorang ibu, dengan lembut Tuhan berbicara dalam hati saya, ”Setiap hari adalah “sekolah” menjadi ibu.” Saya tersadarkan, setiap hari dalam hidup kita adalah sebuah kesempatan untuk kita belajar ”bagaimana menjadi seorang ibu”. Ini berarti menjadi ibu tidak bisa dipelajari hanya dalam waktu beberapa bulan atau tahun seperti sekolah pada umumnya. Setiap hari akan selalu ada pelajaran baru. Tidak akan pernah habis seumur hidup kita. Tergantung kepada kita apakah kita mau belajar atau tidak.
Sebuah ungkapan mengatakan, “dibalik kesuksesan seorang pria, ada seorang wanita.” Demikian pula yang terjadi pada seorang tokoh besar seperti Daud, nama ibunya tidak pernah tercantum dalam kitab suci, namun ia memberikan kontribusi yang besar bagi seorang Daud kecil yang nantinya bertumbuh dewasa dalam keintiman dengan Tuhannya. Teladan hidup Daud tidak terlepas dari keteladanan seorang wanita yang melakukan hal yang tersembunyi namun memiliki pengaruh yang besar bagi kerajaan Allah.
Kemudian Tuhan mengingatkan saya Firman Tuhan dalam Mazmur 127. Ayat 1-2 berkata bahwa sia-sia membangun rumah dan mengawal kota jika bukan Tuhan yang melakukannya. Sia-sia jika kita berusaha menjadi ibu yang memberikan teladan baik kepada anak hanya dengan mengandalkan kepandaian dan hikmat manusia. Kita perlu melibatkan Tuhan senantiasa dan mengandalkan hikmat Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai seorang ibu.
Ini adalah sebuah penghargaan yang luar biasa bagi para ibu. Jerih lelah kita sebagai ibu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bahkan itu dapat disamakan dengan pengorbanan seorang pahlawan (Mazmur 127 : 4-5). Pahlawan tidak mengenal kata menyerah. Pahlawan bertempur hingga tetes darah penghabisan. Pahlawan berani korbankan nyawanya. Seperti itulah daya juang seorang ibu. Akan terus berjuang hingga anak-anaknya mencapai sasaran Allah. Hai para ibu, jangan pernah menyerah apapun tantangan yang engkau hadapi karena kita adalah pahlawanNya Allah!
Ellyana Tenggara - PIC WB Bali
Users' Comments (0)  |
|
|